JEMBRANA- Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra didasari oleh
filsafat dan filosofi Hindu yang mensakralkan nilai-nilai spiritual Nawa
Sanga,sebagai sumber dari segala sumber pengendali dan penyeimbang alam
baik Bhuana Agung maupun Bhuana Alit.
Nawa Sanga merupakan sembilan kekuasaan dan kekuatan Tuhan sebagai penguasa dan pengendali alam dimasing-masing di seluruh penjuru dunia (mata angin), selanjutnya Nawa Sanga ini dipaparkan secara jelas dan sangat detail oleh Tatwa Dasa Aksara (Tatwa Dasa Nawa Sandi / Tatwa tentang rahasia-rahasia Dasa Aksara). Dasa Aksara dan Nawa Sanga menjadi pengetahuan yang sangat fenomenal penuh rahasia-rahasia.
Nawa Sanga merupakan pengetahuan yang yang sangat universal tiada membedakan golongan, derajat, agama dan keyakinan. memiliki makna dan sifat-sifat yang universal, mampu dipahami secara akademika maupun secara spiritual, namun terkadang karena suatu keterbatasan dalam pemahaman dan pengertian yang tersimpan didalam rahasia Nawa Sanga itu, sehingga sulit sekali dipahami dan di mengerti, lalu hanya dimengerti oleh beberapa tokoh Spiritual Hindu yang ada di Bali.
Akibat sulitnya pemaparan secara akademika sehingga pengetahuan ini hanya dipelajari dengan sangat terbatas di dunia pendidikan intlektual akademika. Lalu kesakralan Nawa Sanga itu menjadi komoditi para kalangan Spiritual Hindu saja dan khususnya Hindu Bali, Pengetahuan yang terkandung di dalam Tatwa Nawa Sanga ini adalah pengungkapan akan kebesaran Tuhan yang menciptakan keseimbangan dunia yang meliputi Bumi, Langit, dan Cakrawala serta kekuatan-kekuatan yang terkandung dan terdapat disetiap sudut alam yaitu mata angin, lewat kajian filsafat dan filosopi yang didasari oleh Tatwa Agama maka terpaparkanlah semua itu secara rasional yang dapat diterima oleh akal sehat,namun demikian seberapapun kesempurnaan pemaparan itu tetaplah ada rahasia (sandi), yang tak dapat terpikirkan karena itulah sifat Tuhan Yang Maha Tak terpikirkan (Acintya).
Cobalah kita berpikir sejenak dan bayangkan dikehidupan masa lalu ketika nenek moyang kita di sudut bumi manapun tidak memiliki patokan pengetahuan alam yang jelas agar bisa memahami bumi, langit dan cakrawala, tentulah ilmu geografi, astronomi dan lain sejenisnya hanya baru ada diabad-abad terkini, bukankah ilmu itu telah ada disaat-saat semua serba terbelakang, semua serba sederhana, semua serba sulit ? Andaikan tiada pengetahuan dasar yang kuat yang dijadikan patokan untuk mengetahui dunia ini bulat, tentulah dijaman dahulu para leluhur kita tidak akan bisa merumuskan pengetahuan tentang bumi , langit dan cakrawala karena dijaman semua peralatan masih sangat sederhana bahkan mungkin belum ada, beda dengan kehidupan dewasa ini yang serba digitect mampu menjelajah angkasa,demiikian fenomenalnya Nawa Sanga ini sehingga sangat disakralkan (pingit). Bertolak dari sebuah pemikian bersama dari para tokoh-tokoh Kelompok Penekun Spiritual Hindu untuk melakukan yang terbaik pada bumi, langit dan cakrawala agar tercipta energy positif pada medan magnet alam maka lahirlah sebuah pemikiran bersama untuk menyelenggarakan upacara besar bernama Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra, yang akan dipimpin oleh 108 Sulinggih.
Penyelenggaraan upacara ini tidaklah semata-mata hanya didasari oleh kajian ilmiah Tatwa Nawa Sanga saja, namun sebagai umat beragama yang meyakini adanya kekuasaan dan kekuatan Tuhan dan meyakini pula adanya petunjuk-petunjuk alam niskala, bahwasanya dewasa ini perlu diselenggarakan upacara besar seperti yang dimaksudkan diatas dengan maksud dan tujuan menciptakan keseimbangan setiap sudut alam jagat raya ini (sembilan arah mata angin/Nawa Sanga). Mengingat telah kita lihat dan rasakan bersama bumi dewasa ini sangatlah tidak bersahabat akibat ketidak seimbangan alam terjadi.
Dimana-mana sering kita melihat, menonton, mendengar bahkan merasakan unsur-unsur alam ini telah tak terkendali .
Angin sudah tidak lagi bersahabat, lalu menciptakan prahara terjadilah puting beliung, angin topan dlsbg. Api dan panas sudah tidak lagi bersahabat sehingga kebakaran dimana-mana, panas terasa luar biasa , bahkan jiwa, sifat, prilaku dan perbuatan manusiapun ikut seperti terbakar dan membakar. Sinar matahari menjadi semakin extrem, panas, tiada kesertabilan antara dingin dengan yang lainnya. Aair bah melanda dunia,sunami,gempa bumi,gunung meletus,meratakan bumi, lumpur dsb. Berbagai upaya tindakan ilmiah dengan segala kecanggihan alat-alat modern dilakukan namun semua sia-sia.Masih diperlukan keajaiban Tuhan untuk menstabilkan alam jagat raya ini, karena kita meyakini bumi langit dalam kekuasaannya ;Utpeti,Stiti & Prelina /Musnah & akan kembali kepadaNYA.
Lewat suatu petunjuk alam melalui perjalanan panjang Kelompok Spiritual Hindu, telah menerima suatu wangsit / petunjuk agar dilakukan upacara Karya Agung Ngenteg Jagat 108 untuk mengembalikan kepada Sang Pencipta agar menyeimbangkan kembali jagat raya ini . Petunjuk itu lalu dikaji secara bersama-sama dan melibatkan banyak pihak yang mengerti dan merasa yakin akan kuasa Tuhan, Tatwa Sastra Nawa Sanga dan Dasa Aksara dijadikan alat uji dari wangsit yang diterima agar bisa diterima oleh akal sehat yang rasional. Sesungguhnya hanya Tuhanlah yang bisa mengembalikan keseimbangan ini dengan Tangan AjaibNya. Maka Upacara ini sesungguhnya bukanlah milik & tugas umat Hindu saja,namun tanggung jawab semua umat.
Setelah melalui kajian matang yang yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Kelompok Penekun Spiritual Hindu, serta masukan dari berbagai pihak yang mengerti dan memahami serta punya rasa peduli akan permasalahan alam yang penuh bencana, telah menciptakan kesepakatan bersama untuk menyelenggarakan upacara Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra.
Besarnya anggaran biaya yang harus dipersiapakan untuk penyelenggaraan Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra, dimohonkan partisivasi umat hindu khusunya untuk bisa turut beryadnya sesuai kemampuan dan keiklasannya. Begitu pula banyaknya tenaga personil yang diperlukan selama penyelenggaraan acara tersebut diharapkan kerjasamanya bagi umat hindu bali untuk turut ngayah bakti selama pelaksanaan Karya Agung Ngenteg Linggih yang dimaksudkan.
Yadnya ini mungkin merupakan satu-satunya dan pertama kali dilaksanakan di bumi ini,bersifat universal,dengan maksud mengembalikan kepada Peradaban Hidup Manusia yang baru atas kehendak Tuhan, demi tercapainya Rahayu (selamat), Rahajeng (sejahtera) dan Jagatdita (damai sentausa nan harmonis).
Begitu pula diharapkan seluruh tokoh agama atau orang-orang suci dimanapun berada yang memiliki konsep dan tujuan yang sama, serta kepedulian yang tinggi tanpa mengenal perbedaan agama dan keyakinan, golongan dan derajat, untuk turut bersama-sama mensukseskan Upacara besar tersebut , Segala bantuan, kritik, dan saranya, sangatlah diharapkan untuk kelancaran yadnya besar ini. sekecil apapun bantuan/yadnya/punia yang bisa dilakukan merupakan bentuk nilai spiritual yang sangat berharga, bahwa kita semua peduli akan nasib kehidupan yang semakin sulit dan hidup yang berada dan dikurung oleh berbagai prahara dan bencana. Diakhir kata kami mohon maaf yang sebesar-besarnya bila kami dengan sangat terpaksa tidak melayani perdebatan-perdebatan yang ingin memperkeruh permasalahan, atau niat-niat menggagalkan. Sebagaimana kami manusia biasa yang banyak kekurangan dan keterbatasan, tentulah bantuan, saran, dan kritik yang sportif dari semua umat sangat kami harapkan dan semuanya hanya untuk kesempurnaan dan kelancaran yadnya yang dimaksudkan. Pemaparan dan penjelasan lebih detail dan terperinci akan kami jelaskan lewat, media komunikasi ini. (9/03/2014)
Nawa Sanga merupakan sembilan kekuasaan dan kekuatan Tuhan sebagai penguasa dan pengendali alam dimasing-masing di seluruh penjuru dunia (mata angin), selanjutnya Nawa Sanga ini dipaparkan secara jelas dan sangat detail oleh Tatwa Dasa Aksara (Tatwa Dasa Nawa Sandi / Tatwa tentang rahasia-rahasia Dasa Aksara). Dasa Aksara dan Nawa Sanga menjadi pengetahuan yang sangat fenomenal penuh rahasia-rahasia.
Nawa Sanga merupakan pengetahuan yang yang sangat universal tiada membedakan golongan, derajat, agama dan keyakinan. memiliki makna dan sifat-sifat yang universal, mampu dipahami secara akademika maupun secara spiritual, namun terkadang karena suatu keterbatasan dalam pemahaman dan pengertian yang tersimpan didalam rahasia Nawa Sanga itu, sehingga sulit sekali dipahami dan di mengerti, lalu hanya dimengerti oleh beberapa tokoh Spiritual Hindu yang ada di Bali.
Akibat sulitnya pemaparan secara akademika sehingga pengetahuan ini hanya dipelajari dengan sangat terbatas di dunia pendidikan intlektual akademika. Lalu kesakralan Nawa Sanga itu menjadi komoditi para kalangan Spiritual Hindu saja dan khususnya Hindu Bali, Pengetahuan yang terkandung di dalam Tatwa Nawa Sanga ini adalah pengungkapan akan kebesaran Tuhan yang menciptakan keseimbangan dunia yang meliputi Bumi, Langit, dan Cakrawala serta kekuatan-kekuatan yang terkandung dan terdapat disetiap sudut alam yaitu mata angin, lewat kajian filsafat dan filosopi yang didasari oleh Tatwa Agama maka terpaparkanlah semua itu secara rasional yang dapat diterima oleh akal sehat,namun demikian seberapapun kesempurnaan pemaparan itu tetaplah ada rahasia (sandi), yang tak dapat terpikirkan karena itulah sifat Tuhan Yang Maha Tak terpikirkan (Acintya).
Cobalah kita berpikir sejenak dan bayangkan dikehidupan masa lalu ketika nenek moyang kita di sudut bumi manapun tidak memiliki patokan pengetahuan alam yang jelas agar bisa memahami bumi, langit dan cakrawala, tentulah ilmu geografi, astronomi dan lain sejenisnya hanya baru ada diabad-abad terkini, bukankah ilmu itu telah ada disaat-saat semua serba terbelakang, semua serba sederhana, semua serba sulit ? Andaikan tiada pengetahuan dasar yang kuat yang dijadikan patokan untuk mengetahui dunia ini bulat, tentulah dijaman dahulu para leluhur kita tidak akan bisa merumuskan pengetahuan tentang bumi , langit dan cakrawala karena dijaman semua peralatan masih sangat sederhana bahkan mungkin belum ada, beda dengan kehidupan dewasa ini yang serba digitect mampu menjelajah angkasa,demiikian fenomenalnya Nawa Sanga ini sehingga sangat disakralkan (pingit). Bertolak dari sebuah pemikian bersama dari para tokoh-tokoh Kelompok Penekun Spiritual Hindu untuk melakukan yang terbaik pada bumi, langit dan cakrawala agar tercipta energy positif pada medan magnet alam maka lahirlah sebuah pemikiran bersama untuk menyelenggarakan upacara besar bernama Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra, yang akan dipimpin oleh 108 Sulinggih.
Penyelenggaraan upacara ini tidaklah semata-mata hanya didasari oleh kajian ilmiah Tatwa Nawa Sanga saja, namun sebagai umat beragama yang meyakini adanya kekuasaan dan kekuatan Tuhan dan meyakini pula adanya petunjuk-petunjuk alam niskala, bahwasanya dewasa ini perlu diselenggarakan upacara besar seperti yang dimaksudkan diatas dengan maksud dan tujuan menciptakan keseimbangan setiap sudut alam jagat raya ini (sembilan arah mata angin/Nawa Sanga). Mengingat telah kita lihat dan rasakan bersama bumi dewasa ini sangatlah tidak bersahabat akibat ketidak seimbangan alam terjadi.
Dimana-mana sering kita melihat, menonton, mendengar bahkan merasakan unsur-unsur alam ini telah tak terkendali .
Angin sudah tidak lagi bersahabat, lalu menciptakan prahara terjadilah puting beliung, angin topan dlsbg. Api dan panas sudah tidak lagi bersahabat sehingga kebakaran dimana-mana, panas terasa luar biasa , bahkan jiwa, sifat, prilaku dan perbuatan manusiapun ikut seperti terbakar dan membakar. Sinar matahari menjadi semakin extrem, panas, tiada kesertabilan antara dingin dengan yang lainnya. Aair bah melanda dunia,sunami,gempa bumi,gunung meletus,meratakan bumi, lumpur dsb. Berbagai upaya tindakan ilmiah dengan segala kecanggihan alat-alat modern dilakukan namun semua sia-sia.Masih diperlukan keajaiban Tuhan untuk menstabilkan alam jagat raya ini, karena kita meyakini bumi langit dalam kekuasaannya ;Utpeti,Stiti & Prelina /Musnah & akan kembali kepadaNYA.
Lewat suatu petunjuk alam melalui perjalanan panjang Kelompok Spiritual Hindu, telah menerima suatu wangsit / petunjuk agar dilakukan upacara Karya Agung Ngenteg Jagat 108 untuk mengembalikan kepada Sang Pencipta agar menyeimbangkan kembali jagat raya ini . Petunjuk itu lalu dikaji secara bersama-sama dan melibatkan banyak pihak yang mengerti dan merasa yakin akan kuasa Tuhan, Tatwa Sastra Nawa Sanga dan Dasa Aksara dijadikan alat uji dari wangsit yang diterima agar bisa diterima oleh akal sehat yang rasional. Sesungguhnya hanya Tuhanlah yang bisa mengembalikan keseimbangan ini dengan Tangan AjaibNya. Maka Upacara ini sesungguhnya bukanlah milik & tugas umat Hindu saja,namun tanggung jawab semua umat.
Setelah melalui kajian matang yang yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Kelompok Penekun Spiritual Hindu, serta masukan dari berbagai pihak yang mengerti dan memahami serta punya rasa peduli akan permasalahan alam yang penuh bencana, telah menciptakan kesepakatan bersama untuk menyelenggarakan upacara Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra.
Besarnya anggaran biaya yang harus dipersiapakan untuk penyelenggaraan Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra, dimohonkan partisivasi umat hindu khusunya untuk bisa turut beryadnya sesuai kemampuan dan keiklasannya. Begitu pula banyaknya tenaga personil yang diperlukan selama penyelenggaraan acara tersebut diharapkan kerjasamanya bagi umat hindu bali untuk turut ngayah bakti selama pelaksanaan Karya Agung Ngenteg Linggih yang dimaksudkan.
Yadnya ini mungkin merupakan satu-satunya dan pertama kali dilaksanakan di bumi ini,bersifat universal,dengan maksud mengembalikan kepada Peradaban Hidup Manusia yang baru atas kehendak Tuhan, demi tercapainya Rahayu (selamat), Rahajeng (sejahtera) dan Jagatdita (damai sentausa nan harmonis).
Begitu pula diharapkan seluruh tokoh agama atau orang-orang suci dimanapun berada yang memiliki konsep dan tujuan yang sama, serta kepedulian yang tinggi tanpa mengenal perbedaan agama dan keyakinan, golongan dan derajat, untuk turut bersama-sama mensukseskan Upacara besar tersebut , Segala bantuan, kritik, dan saranya, sangatlah diharapkan untuk kelancaran yadnya besar ini. sekecil apapun bantuan/yadnya/punia yang bisa dilakukan merupakan bentuk nilai spiritual yang sangat berharga, bahwa kita semua peduli akan nasib kehidupan yang semakin sulit dan hidup yang berada dan dikurung oleh berbagai prahara dan bencana. Diakhir kata kami mohon maaf yang sebesar-besarnya bila kami dengan sangat terpaksa tidak melayani perdebatan-perdebatan yang ingin memperkeruh permasalahan, atau niat-niat menggagalkan. Sebagaimana kami manusia biasa yang banyak kekurangan dan keterbatasan, tentulah bantuan, saran, dan kritik yang sportif dari semua umat sangat kami harapkan dan semuanya hanya untuk kesempurnaan dan kelancaran yadnya yang dimaksudkan. Pemaparan dan penjelasan lebih detail dan terperinci akan kami jelaskan lewat, media komunikasi ini. (9/03/2014)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar