Senin, 07 April 2014

Matur Piuning ring Silayukti, Padangbai


PADANGBAI -  
        Melakukan persembahyangan bersama di Pura Tanjung Sari & Pura Silayukti yang ada di Desa Adat Padangbai,oleh Kelompok Penekun Spiritual Hindu merupakan rangkaian perjalanan ke 70 pura dalam kontek matur piuning guna memohon anugrah agar pelaksanaan upacara Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra berjalan dengan sempurna dan tidak sia-sia,sebelumnya pada 2 Maret lalu telah dilakukan matur piuning di Pura Lawang Agung di Singaraja.
        Seusai melakukan persembahyangan bersama sekaligus matur piuning di Pura Silayukti,yang dpimpin oleh Mangku Pura setempat, rombongan Kelompok Penekun Spiritual Hindu yang termasuk didalamnya Perguruan Wahyu Siwa Mukti dari Pasraman Sastra Kencana(Jembrana),melalui ketua panitia penyelenggara Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra ; I Dewa Ketut Puja Suradnya bersama Ketua Pasraman Sastra Kencana sekaligus Pinisepuh Perguruan Wahyu Siwa Mukti : Jro Wayan Budiarsa,melakukan sosialisasi sekaligus dharma swaka di desa Adat Padang Bai tepatnya di Banjar Shidakarya Padang Bai.
     Diterima oleh Bendesa Adat Desa Adat padang Bai ; Mangku Wayan Djandra,Kelian Banjar Sidhakarya;Made Sarma beserta tokoh-tokoh Desa Adat se-Wewengkon Padang Bai,beserta Kapolsek setempat.
          Rombongan menyampaikan maksud dan tujuannya terkait Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra,dan bagai gayung bersambut,disambut bersahaja,hangat serta apresiasi yang tinggi untuk karya Agung tersebut,”adalah yadnya untuk kebaikan semua umat manusia,kami Desa Adat Padang Bai sangat setuju”,demikian sepenggal kutipan ungkapan Bendesa Adat Padang Bai. Bahkan salah seorang Tokoh Gaek desa Adat Padang Bai yang juga seorang Pengusaha ; Bapak Suryana Sari dengan iklas menyumbangkan dana Rp 2 juta Rupiah untuk karya Agung tersebut,menurutnya ;keinginan untuk ngayah kepada umat dengan berdasarkan Dharma adalah baik untuk kehidupan kita semua,baik sekala maupun niskala,sebisanya saya akan membantu”ungkapnya.
Karya Agung Ngenteg jagat merupakan karya yang bersifat universal yang melibatkan segala aspek kehidupan umat manusia,upacara yang akan dipimpin oleh 108 Pendeta Hindu dari berbagai Golongan ini,diyakini akan mampu memancarkan vibrasi suci yang akan tersebar ke seluruh penjuru dunia,yang akan mampu memberikan efek positif bagi kehidupan.Menyongsong peradaban baru yang penuh harapan dan masa depan baru yang lebih sempurna. (16/03/2014)
Read more ...

Pemaparan Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra




JEMBRANA- Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra didasari oleh filsafat dan filosofi Hindu yang mensakralkan nilai-nilai spiritual Nawa Sanga,sebagai sumber dari segala sumber pengendali dan penyeimbang alam baik Bhuana Agung maupun Bhuana Alit. 
   Nawa Sanga merupakan sembilan kekuasaan dan kekuatan Tuhan sebagai penguasa dan pengendali alam dimasing-masing di seluruh penjuru dunia (mata angin), selanjutnya Nawa Sanga ini dipaparkan secara jelas dan sangat detail oleh Tatwa Dasa Aksara (Tatwa Dasa Nawa Sandi / Tatwa tentang rahasia-rahasia Dasa Aksara). Dasa Aksara dan Nawa Sanga menjadi pengetahuan yang sangat fenomenal penuh rahasia-rahasia.               
    Nawa Sanga merupakan pengetahuan yang yang sangat universal tiada membedakan golongan, derajat, agama dan keyakinan. memiliki makna dan sifat-sifat yang universal, mampu dipahami secara akademika maupun secara spiritual, namun terkadang karena suatu keterbatasan dalam pemahaman dan pengertian yang tersimpan didalam rahasia Nawa Sanga itu, sehingga sulit sekali dipahami dan di mengerti, lalu hanya dimengerti oleh beberapa tokoh Spiritual Hindu yang ada di Bali.
    Akibat sulitnya pemaparan secara akademika sehingga pengetahuan ini hanya dipelajari dengan sangat terbatas di dunia pendidikan intlektual akademika. Lalu kesakralan Nawa Sanga itu menjadi komoditi para kalangan Spiritual Hindu saja dan khususnya Hindu Bali, Pengetahuan yang terkandung di dalam Tatwa Nawa Sanga ini adalah pengungkapan akan kebesaran Tuhan yang menciptakan keseimbangan dunia yang meliputi Bumi, Langit, dan Cakrawala serta kekuatan-kekuatan yang terkandung dan terdapat disetiap sudut alam yaitu mata angin, lewat kajian filsafat dan filosopi yang didasari oleh Tatwa Agama maka terpaparkanlah semua itu secara rasional yang dapat diterima oleh akal sehat,namun demikian seberapapun kesempurnaan pemaparan itu tetaplah ada rahasia (sandi), yang tak dapat terpikirkan karena itulah sifat Tuhan Yang Maha Tak terpikirkan (Acintya).
    Cobalah kita berpikir sejenak dan bayangkan dikehidupan masa lalu ketika nenek moyang kita di sudut bumi manapun tidak memiliki patokan pengetahuan alam yang jelas agar bisa memahami bumi, langit dan cakrawala, tentulah ilmu geografi, astronomi dan lain sejenisnya hanya baru ada diabad-abad terkini, bukankah ilmu itu telah ada disaat-saat semua serba terbelakang, semua serba sederhana, semua serba sulit ? Andaikan tiada pengetahuan dasar yang kuat yang dijadikan patokan untuk mengetahui dunia ini bulat, tentulah dijaman dahulu para leluhur kita tidak akan bisa merumuskan pengetahuan tentang bumi , langit dan cakrawala karena dijaman semua peralatan masih sangat sederhana bahkan mungkin belum ada, beda dengan kehidupan dewasa ini yang serba digitect mampu menjelajah angkasa,demiikian fenomenalnya Nawa Sanga ini sehingga sangat disakralkan (pingit). Bertolak dari sebuah pemikian bersama dari para tokoh-tokoh Kelompok Penekun Spiritual Hindu untuk melakukan yang terbaik pada bumi, langit dan cakrawala agar tercipta energy positif pada medan magnet alam maka lahirlah sebuah pemikiran bersama untuk menyelenggarakan upacara besar bernama Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra, yang akan dipimpin oleh 108 Sulinggih.
Penyelenggaraan upacara ini tidaklah semata-mata hanya didasari oleh kajian ilmiah Tatwa Nawa Sanga saja, namun sebagai umat beragama yang meyakini adanya kekuasaan dan kekuatan Tuhan dan meyakini pula adanya petunjuk-petunjuk alam niskala, bahwasanya dewasa ini perlu diselenggarakan upacara besar seperti yang dimaksudkan diatas dengan maksud dan tujuan menciptakan keseimbangan setiap sudut alam jagat raya ini (sembilan arah mata angin/Nawa Sanga). Mengingat telah kita lihat dan rasakan bersama bumi dewasa ini sangatlah tidak bersahabat akibat ketidak seimbangan alam terjadi.
     Dimana-mana sering kita melihat, menonton, mendengar bahkan merasakan unsur-unsur alam ini telah tak terkendali .
 Angin sudah tidak lagi bersahabat, lalu menciptakan prahara terjadilah puting beliung, angin topan dlsbg. Api dan panas sudah tidak lagi bersahabat sehingga kebakaran dimana-mana, panas terasa luar biasa , bahkan jiwa, sifat, prilaku dan perbuatan manusiapun ikut seperti terbakar dan membakar. Sinar matahari menjadi semakin extrem, panas, tiada kesertabilan antara dingin dengan yang lainnya. Aair bah melanda dunia,sunami,gempa bumi,gunung meletus,meratakan bumi, lumpur dsb. Berbagai upaya tindakan ilmiah dengan segala kecanggihan alat-alat modern dilakukan namun semua sia-sia.Masih diperlukan keajaiban Tuhan untuk menstabilkan alam jagat raya ini, karena kita meyakini bumi langit dalam kekuasaannya ;Utpeti,Stiti & Prelina /Musnah & akan kembali kepadaNYA.
     Lewat suatu petunjuk alam melalui perjalanan panjang Kelompok Spiritual Hindu, telah menerima suatu wangsit / petunjuk agar dilakukan upacara Karya Agung Ngenteg Jagat 108 untuk mengembalikan kepada Sang Pencipta agar menyeimbangkan kembali jagat raya ini . Petunjuk itu lalu dikaji secara bersama-sama dan melibatkan banyak pihak yang mengerti dan merasa yakin akan kuasa Tuhan, Tatwa Sastra Nawa Sanga dan Dasa Aksara dijadikan alat uji dari wangsit yang diterima agar bisa diterima oleh akal sehat yang rasional. Sesungguhnya hanya Tuhanlah yang bisa mengembalikan keseimbangan ini dengan Tangan AjaibNya. Maka Upacara ini sesungguhnya bukanlah milik & tugas umat Hindu saja,namun tanggung jawab semua umat.
     Setelah melalui kajian matang yang yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Kelompok Penekun Spiritual Hindu, serta masukan dari berbagai pihak yang mengerti dan memahami serta punya rasa peduli akan permasalahan alam yang penuh bencana, telah menciptakan kesepakatan bersama untuk menyelenggarakan upacara Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra.

     Besarnya anggaran biaya yang harus dipersiapakan untuk penyelenggaraan Karya Agung Ngenteg Jagat 108 Bajra, dimohonkan partisivasi umat hindu khusunya untuk bisa turut beryadnya sesuai kemampuan dan keiklasannya. Begitu pula banyaknya tenaga personil yang diperlukan selama penyelenggaraan acara tersebut diharapkan kerjasamanya bagi umat hindu bali untuk turut ngayah bakti selama pelaksanaan Karya Agung Ngenteg Linggih yang dimaksudkan.
 Yadnya ini mungkin merupakan satu-satunya dan pertama kali dilaksanakan di bumi ini,bersifat universal,dengan maksud mengembalikan kepada Peradaban Hidup Manusia yang baru atas kehendak Tuhan, demi tercapainya Rahayu (selamat), Rahajeng (sejahtera) dan Jagatdita (damai sentausa nan harmonis).
      Begitu pula diharapkan seluruh tokoh agama atau orang-orang suci dimanapun berada yang memiliki konsep dan tujuan yang sama, serta kepedulian yang tinggi tanpa mengenal perbedaan agama dan keyakinan, golongan dan derajat, untuk turut bersama-sama mensukseskan Upacara besar tersebut , Segala bantuan, kritik, dan saranya, sangatlah diharapkan untuk kelancaran yadnya besar ini. sekecil apapun bantuan/yadnya/punia yang bisa dilakukan merupakan bentuk nilai spiritual yang sangat berharga, bahwa kita semua peduli akan nasib kehidupan yang semakin sulit dan hidup yang berada dan dikurung oleh berbagai prahara dan bencana. Diakhir kata kami mohon maaf yang sebesar-besarnya bila kami dengan sangat terpaksa tidak melayani perdebatan-perdebatan yang ingin memperkeruh permasalahan, atau niat-niat menggagalkan. Sebagaimana kami manusia biasa yang banyak kekurangan dan keterbatasan, tentulah bantuan, saran, dan kritik yang sportif dari semua umat sangat kami harapkan dan semuanya hanya untuk kesempurnaan dan kelancaran yadnya yang dimaksudkan. Pemaparan dan penjelasan lebih detail dan terperinci akan kami jelaskan lewat, media komunikasi ini. (9/03/2014)
Read more ...

Keseimbangan Buana Agung dan Buana Alit


JEMBRANA - Hari minggu tanggal 9 maret 2014 diadakan pertemuan tokoh spiritual Bali yang tergabung dalam “KELOMPOK PENEKUN SPIRITUAL BALI” bertempat di “PASRAMAN SASTRA KENCANA”, PERGURUAN WAHYU SIWA MUKTI di Br.Tegak Gede, Desa Yeh Embang Kangin kec. Mendoyo kabupaten Jembrana membahas prihal acara “KARYA AGUNG NGANTEG JAGAT 108 GENTA” Yang di hadiri semua panitia yang ada di seluruh kabupaten Bali.
       Menurut ketua panitia “KARYA AGUNG NGANTEG JAGAT 108 BAJRA” dan sekaligus ketua KELOMPOK PENEKUN SPIRITUAL BALI, I Dewa Ketut Puja Suradnya mengatakan Upacara NGANTEG JAGAT 108 BAJRA adalah suatu upacara ritual yang dilaksanakan oleh 108 Pendeta/Sulinggih dengan menguncarkan bajra secara bersamaan di suatu tempat yang telah ditentukan. Tujuan dari karya agung ngenteg jagat 108 Bajra adalah untuk memohon keselamatan jagat atau kerahajengan jagat. Semoga dengan kegiatan ini seluruh umat manusia didunia mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan lahir, bathin, terhindar dari segala musibah dan marabahaya. Dan diyakini dengan penguncaran 108 Bajra yang di laksanakan oleh para pendeta / Sulinggih secara bersamaan dengan niat yang suci akan mampu memancarkan cahaya yang putih bersih dengan vibrasi suci yang terbesar ke seluruh dunia yang mampu member dampak positif bagi kehidupan. Secara khusus, oleh karena tempat pelaksanaannya nanti Pulau Bali akan bercahaya. Dari cahaya itu akan menjadikan Pulau Bali sebagai mercusuar dunia dalam sebuah peradaban baru yang lebih sempurna yang secara nyata manfaat positifnya dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia. 

 Menurut Sesepuh Perguruan “Wahyu Siwa Mukti”, pasraman sastra kencana I Wayan Budiarsa dan juga sebagai pencetus dari Upacara agung nganteg jagat 108 Genta, mengatakan ; makna dari 108 ini adalah penyatuan dari Bhuana Agung & Bhuana alit diambil dari Pengider Nawa Sanga karna masing –masing tempat ada uripnya. Ini upacara yg tidak ada duanya merupakan kebanggaan sebagai umat Hindu khususnya yg bisa menghadirkan para pemuka agama atau para sulinggih yang mencapai 108 secara agama yg diakui dan secara agama juga di proses, angka seratus delapan harus ajeg dibali karna konsep Hindunya harus seperti itu dari umat hindu mengenal urip,angka 108 datangnya dari urip 999 yg tertinggi tidak ada lagi lebih dari itu, 99+9 itu datangnya dari penyatuan Bhuana Alit & Bhuana Agung dan filosofinya ngenteg jagat 999 menyebabkan timbulnya cakra maka Hindu mengenal bumi langit dan cakrawala harus seimbang. Dala, prerencanaan Karya Agung Nganteg Jagat 108 Bajra akan di laksanakan di Pura Puncak Luhur Gunung Kutul Desa. Puncak Sari, Kecamatan BusungBiu Kabupaten Buleleng ( Bali Barat) Sesuai petunjuk atau wahyu yang di terima dari pura tersebut karna konon diberitakan di pura itulah pusat atau pancer bumi.
     Dan ketua panitia minta dukungan agar acara ini bisa terlaksana sesuai tujuan dan sumbangsihnya kepada semua element masyarakat Bali dan masyarakat Indonesia pada umumnya.dan menyusul 5 sulinggih dari benoa eropa akan siap dalam karya Ngateg Jagat 108 Bajra tersebut. ***

Read more ...
Pura Tunjung Sari, Padangbai, Karang asem

Read more ...

Profile Panitia Inti

Dewa Kt Puja Suradnya
Ketua Panitia

Dewa Made Mertayasa
Sekretaris

Mgk Made Adiptayasa
Wakil Sekretaris

Putu Yanik Swara
Bendahara

I Gede Sukwan
Wakil Bendahara

Mgk Wayan Mudika
Sie Dokumentasi & Perlengkapan

I Putu Oka Suyasa
Sie Informasi & Publikasi

I Dewa Komang Pariasa
Sie Upakara & Persembahyangan

Guru Ngurah Wiranatha
Sie Transportasi & Advokasi

Jro Ni Wayan Tagelnik
Sie Konsumsi & Akomodasi

Ni Nyoman Murni
Sie Administrasi & Kesekretariatan

Read more ...
Matur Piuning ke 70 Pura di Bali
Read more ...
Lokasi Pelaksanaan :

Pura Pucak Luhur Gunung Kutul, Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali Barat. Sekitar 11 km dari Pasar Pupuan, Tabanan, arah ke Batubolong, Pakutatan, Jembrana.
Read more ...
Pura Ratu Patih
Read more ...
Sekretariat Panitia :
Jl. WR. Supratman No. 161 B Singaraja
HP. 087762699629
Read more ...